KONAWE SELATAN, PRIMESULTRA.COM – Di tengah rutinitas produksi dan keterbatasan fasilitas kerja, Dani menjalani pekerjaan di pabrik tempe di Konawe Selatan demi memperoleh penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Sejak 2024, Dani bekerja di sebuah pabrik tempe yang berada di Blok I, Desa Lawoila, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan. Setiap hari, ia terlibat langsung dalam proses produksi, mulai dari mencuci kedelai, merebus, hingga menyiapkan bahan baku sebelum diolah menjadi tempe.
Pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga sekaligus ketelitian. Setiap tahapan harus dikerjakan sesuai proses agar kedelai dapat diolah dengan baik hingga menghasilkan tempe yang siap dipasarkan.
Dalam menjalankan pekerjaannya, Dani memiliki jadwal kerja yang cukup panjang. Pada sif pagi, ia mulai bekerja pukul 06.00 hingga 12.00 Wita. Setelah beristirahat sampai pukul 13.00 atau 14.00 Wita, ia kembali melanjutkan pekerjaan hingga pukul 16.00 atau 17.00 Wita.
Sementara itu, ketika mendapat giliran sif malam, Dani mulai bekerja sejak pukul 00.00 hingga 09.00 Wita. Pergantian jadwal tersebut menyesuaikan kebutuhan produksi di pabrik.
Volume produksi juga mengikuti permintaan pasar. Dalam kondisi tertentu, pabrik dapat mengolah sekitar tujuh hingga sepuluh karung kedelai dalam sehari. Jumlah tersebut dapat menghasilkan ratusan tempe dengan ukuran dan kemasan yang disesuaikan untuk kebutuhan penjualan.
Proses produksi tidak langsung menghasilkan tempe yang siap dipasarkan. Setelah kedelai selesai diolah dan dibungkus, produk tersebut masih membutuhkan waktu fermentasi sekitar tiga hari sebelum dapat dijual.
Di balik kegiatan produksi tersebut, terdapat sejumlah kendala yang terkadang menghambat pekerjaan. Dani menyebut ketersediaan air menjadi salah satu persoalan penting karena hampir seluruh tahapan pengolahan kedelai membutuhkan air.
“Kalau air kurang, pekerjaan bisa terhambat karena air sangat dibutuhkan dalam proses pembuatan tempe,” kata Dani saat ditemui primesultra.com, Kamis (29/10/2026).
Selain ketersediaan air, pemadaman listrik juga menjadi kendala dalam kegiatan produksi. Gangguan pasokan listrik dapat memengaruhi kelancaran pekerjaan, terutama ketika proses pengolahan kedelai sedang berlangsung.
Pabrik tersebut saat ini didukung enam pekerja yang menangani berbagai tahapan pembuatan tempe. Pembagian pekerjaan dilakukan untuk memastikan kegiatan produksi berjalan sesuai kebutuhan.
Mengenai penghasilan, Dani mengatakan pendapatannya mengikuti jumlah tempe yang diproduksi. Dalam sebulan, ia memperkirakan dapat memperoleh sekitar Rp 2,5 juta. Namun, jumlah tersebut tidak selalu sama karena bergantung pada volume produksi.
Penghasilan itu menjadi salah satu sumber untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Karena itu, pekerjaan di pabrik tempe menjadi bagian dari tanggung jawab Dani dalam menopang perekonomian keluarga.
Di tengah tuntutan produksi, jadwal kerja bergantian, serta kendala fasilitas, Dani tetap menjalankan tugasnya sebagai pekerja pabrik. Ia mengandalkan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan penghasilan dari proses pengolahan kedelai hingga menjadi tempe yang dipasarkan kepada masyarakat.
Penulis: Friska Rahmat
Editor: Ahmad Jaelani















