KENDARI, SULTRAKU.COM – Baru-baru ini moderasi agama menjadi perbincangan publik. Pasalnya, ide ini menuai kritikan dari kalangan umat Islam.
Kritikan tersebut salah satunya datang dari Muballigh Sulawesi Tenggara (Sultra), Yuslan Aziz Abu Fikri. Menurutnya, moderasi agama ini salah satu proyek yang sedang menyasar Islam dan Kaum Muslim adalah proyek moderasi agama.
Isu proyek ini, kata dia, tidak bisa dilepaskan dari pengarusutamaan Islam moderat.
“Proyek moderasi agama ini bertujuan untuk menancapkan paham Islam moderat dan menjadikan kaum Muslim menjadi Muslim moderat,” kata pemerhati kebijakan sosial dan ekonomi dari Sultra ini, Minggu (26/12/2021).
Lebih lanjut, tambah Yuslan, paham moderasi agama secara garis besar adalah paham keagamaan yang moderat. Di mana istilah moderat sering dilawankan dengan istilah radikal. Kedua istilah ini bukanlah istilah ilmiah, tetapi cenderung merupakan istilah politis. Kedua istilah ini memiliki maksud dan tujuan politik tertentu.
Sebabnya, lanjut dia, moderat adalah paham keagamaan (Islam) yang harus menyesuaikan dengan selera peradaban dan nilai-nilai barat, yang notabene adalah sekuler (memisahkan agama dari kehidupan).
Sebaliknya, radikal adalah paham keagamaan (Islam) yang dilekatkan dan atau dituduhkan pada kelompok-kelompok Islam yang anti dengan nilai-nilai barat dan yang menolak keras ideologi sekularisme kapitalisme liberal.
“Termasuk yang menghendaki diterapkannya syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan,” ujarnya.
Selain itu, ia menjelaskan, moderasi agama (Islam) bisa dimaknai sebagai proses menjadikan seorang Muslim sebagai Muslim moderat.
Di mana karakter Muslim moderat dapat dipahami, salah satunya, dari sebuah buku yang dikeluarkan oleh Rand Corporation tentang Peta Jalan untuk Membangun Jaringan Moderat di Dunia Muslim.
Dalam buku tersebut, dijelaskan tentang karakteristik Muslim moderat, bahwa, Muslim moderat adalah orang yang menyebarluaskan dimensi-dimensi kunci peradaban demokrasi barat. Termasuk di dalamnya gagasan tentang HAM, kesetaraan gender, pluralisme, dan lain-lain.
Olehnya itu, kata dia, proyek moderasi agama sejatinya adalah proyek pesanan barat yang telah dirancang untuk mengaburkan ajaran Islam dari pemahaman umat, sehingga pada akhirnya umat pun menjauh dari Islam yang sebenarnya dan mengadopsi segala pemikiran, pemahaman, nilai-nilai dan peradaban sekuler Barat yang bathil dan rusak.
“Jadi proyek moderasi agama ini sangat berpotensi untuk memecah belah umat. Dan inilah yang sangat diinginkan oleh Barat dari pengarusutamaan moderasi beragama ini agar umat Islam terpecah belah,” jelasnya.
Lebih jauh, Yuslan juga menjelaskan, upaya memecah belah umat Islam ini terkonfirmasi dalam dokumen Rand Corporation, yang membagi bagi umat Islam dalam 4 kelompok, yakni moderat, sekuler, tradisional, dan fundamentalis.
Lalu dari kelompok-kelompok ini, kata dia, kemudian diterapkan politik adu domba, salah satunya melalui pengarusutamaan moderasi agama.
Peradaban barat sadar bahwa di satu sisi umat Islam saat ini sedang bergerak menuju arah kebangkitan globalnya. Sedangkan di sisi lain Barat dengan peradabanya sedang bergerak menuju kehancurannya.
Bagi Barat, umat Islam yang mulai bangkit harus dihentikan. Maka proyek moderasi beragama menjadi pilihan strategi berikutnya setelah proyek terorisme dan radikalisme gagal.
“Sungguh proyek Barat melalui moderasi beragama ini dan juga proyek-proyek lainnya yang ditujukan kepada Islam dan kaum muslimin, pada hakikatnya tidak akan bisa menyelamatkan peradaban Barat dari kehancuranya kecuali hanya sedikit memperpanjang nafas kehidupannya,” jelasnya.
Terlebih seluruh mata dunia bisa melihat bahwa peradaban Barat yang berbasis pada ideologi sekuler kapitalisme saat ini hanya menimbulkan kerusakan dan krisis multidimensi yang tak berkesudahan diberbagai aspek kehidupan; ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.
Olehnya itu, ia mengungkapkan, solusi untuk menangkal virus moderasi agama ini yakni terus memberikan umat Islam vaksin kesadaran penuh untuk berpegang teguh pada ajaran Islam yang haq ini secara kaffah.
“Dan jangan pernah mau untuk diadu domba dengan cap Islam moderat dan Islam radikal. Islam ya Islam, tanpa embel-embel apapun” katanya.
“Umat Islam pun juga tak boleh menghentikan gerakan perubahan revolusionernya menuju penerapan Islam secara kaffah sebagai kunci kebangkitan global umat Islam,” sambungnya.
Reporter: Fitrah Nugraha
Editor: Kardin















