WAKATOBI, SULTRAKU.COM – Peserta KKN Nusantara dari Universitas Nurul Jadid, Probolinggo, Jawa Timur, belajar kebudayaan kepada masyarakat pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi. Salah satu budaya yang mereka pelajari adalah cara menenun sarung tradisional khas daerah tersebut.
Oleh masyarakat pulau Tomia, sarung tradisional itu biasa disebut furai homoru. Proses pembuatan sarung ini seluruhnya menggunakan alat tradisional berupa kayu. Untuk menghasilkan sehelai furai homoru bisa memakan waktu sampai berminggu-minggu atau bahkan bulanan.
“Sangat senang belajar menenun sarung secara tradisional bersama Ibu-Ibu,” kata Irhamna Kade, salah satu peserta KKN Nusantara dari UNUJA, yang ditempatkan di Kecamatan Tomia, Wakatobi, Senin (25/7/2022).

Dia mengaku baru pertama kali belajar dan melihat langsung bagaimana proses pembuatan sarung tradisional. Selama ini, dirinya hanya melihat sarung hasil buatan pabrik-pabrik modern.
Lebih lanjut, Irhamna merasa bangga lantaran belajar secara langsung kepada Ibu-Ibu kampung pembuat sarung tradisional.
“Pengalaman baru yang sangat berharga yang sulit saya temukan di Jawa,” jelasnya.
Peserta KKN lain, Devi Akmalia merasakan hal yang sama. “Asyik. Saling berbagi kebudayaan, kita memperlihatkan budaya santri, warga-warga menunjukkan budaya lokal setempat,” terang Devi.
Devi berharap kepada generasi sekarang agar belajar menenun secara tradisional dan melestarikannya, mumpung masih ada Ibu-Ibu yang tahu.
Peserta KKN Nusantara itu aktif mengajar di sekolah-sekolah, membimbing Ibu-Ibu majelis taklim, TPQ dan lain-lain. Selanjutnya, mereka juga ikut andil dalam setiap hajatan masyarakat setempat seperti pernikahan, kerja bakti, dan acara lainnya.
Terhitung sudah dua minggu mereka aktif melaksanakan tugas KKN Nusantara bertema “Optimalisasi Santri Membangun Desa Berdikari” di Pulau Tomia, Wakatobi.
Penulis: Kardin















