KONAWE SELATAN, SULTRAKU.COM – Pengurus DPD Pemuda Tani HKTI Sulawesi Tenggara (Sultra) berkunjung ke Pabrik Beras di Kabupaten Konawe Selatan dan Pabrik Air Mineral Kemasan di Bombana.
Ketua DPD Pemuda Tani HKTI Sultra M. Ridwan Zainal mengatakan, Salah satu tujuan kunjungan yang dilakukan untuk mengklasifikasi masalah yang dihadapi para petani. Selain itu, menggali hal menarik untuk mengubah citra pertanian menjadi bisnis yang menarik.
Pria yang akrab disapa Rido mengatakan, rendahnya minat regenerasi muda terjun ke dunia pertanian dan stigmatisasi masyarakat menganggap pertanian sekedar mencangkul.
Rido bersama pengurus mengunjungi pabrik beras UD Regan yang berada di Desa Ambakumina, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan.

Pimpinan UD Regan, Echa mengatakan pabrik mulai beroperasi bulan Juli 2022, sebelumnya hanya mampu menghasilkan empat ton per jam atau 80 karung per jam, dengan adanya pabrik yang mulai beroperasi, bisa menghasilkan delapan ton per jam atau dua kali lipat dari sebelumnya.
Menurutnya, masalah yang dihadapi saat ini adalah stok gabah kosong mulai Agustus hingga awal Oktober mendatang, sehingga dirinya harus mengambil stok gabah dari luar Konsel dengan harga yang lebih mahal.
“Untuk harga gabah di konsel mulai dari Rp 3.800 hingga Rp 3.900 per kg, tetapi karena stok sekarang lagi kosong, sehingga harus menyetok dari Bombana dengan harga Rp 4.800 per kg,” katanya, Jumat (19/8/2022).

Echa mengungkapkan harga pupuk yang mahal, dan harga gabah yang tidak stabil. Ia berharap pemerintah mengatur distribusi pupuk dan menetapkan patokan harga gabah.
Sebagai mitra Perum Bulog, UD Regan mampu memasukkan beras ke Perum Bulog hingga ribuan ton tidak terbatas, mulai posisi panen sampai gabah habis, yang dikumpulkan dari Ladongi, Kolaka dan Konawe.
Sebagai pengumpul, Echa berhubungan langsung dengan petani, membiayai mulai dari traktor untuk membuka lahan, tanam bibit, pemberian pupuk, hingga alat pemotong.
Sementara itu, Ketua DPC Pemuda Tani HKTI Kabupaten Bombana Imran menyampaikan, masalah yang sedang dihadapi petani adalah distribusi pupuk.
Ketersediaan pupuk yang sangat terbatas, dan juga mahal. Selain itu, ia berharap pemerintah menyediakan kebutuhan pertanian diantaranya mesin bajak pertanian, alat pengairan dan pembangkit listrik.
Ia berharap Pemuda Tani HKTI Sultra bisa sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi para petani.
Dalam kunjungan tersebut, Pengurus Pemuda Tani HKTI Sultra juga menyempatkan mengunjungi usaha air mineral kemasan milik Ketua DPC Pemuda Tani HKTI Bombana yang beroperasi sejak 2019 di Rumbia, Bombana.


Pasaran air mineral kemasan gelas tersebut sudah sampai ke Kabupaten Kolaka, Bombana, Konsel dan Kendari.
Penulis: Andi Nuraisa Harifuddin















