Metro

15 Tahun Jual Makanan Olahan di Kendari, Ibu Ini Konsisten Raup Rp3 Juta per Bulan

9
×

15 Tahun Jual Makanan Olahan di Kendari, Ibu Ini Konsisten Raup Rp3 Juta per Bulan

Share this article
Hapsa tampak melayani pembeli sambil mempertahankan usaha makanan olahan yang telah dijalankannya selama 15 tahun. Foto: Eka Aulia/Primesultra
Example 468x60

KENDARI, PRIMESULTRA.COM – Selama 15 tahun berjualan makanan olahan di Kendari, seorang ibu tetap konsisten melayani pelanggan setiap hari dan menghasilkan rata-rata Rp3 juta per bulan.:

Berjualan makanan olahan menjadi mata pencaharian yang telah lama ditekuni Hapsa (57). Selama kurang lebih 15 tahun, perempuan tersebut mengandalkan hasil masakannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mempertahankan usaha yang telah dibangun dengan penuh ketekunan.

Example 300x600

Setiap hari, Hapsa menyiapkan berbagai menu yang dimasak sendiri. Bahan baku diperoleh dari pasar tradisional dan tempat pelelangan ikan agar kualitas makanan tetap terjaga. Beragam lauk dan sayur kemudian disajikan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang datang silih berganti.

Sebelum menjalankan usaha makanan olahan, Hapsa lebih dahulu berjualan aneka kue. Namun, keinginannya untuk lebih banyak memasak membuatnya memutuskan beralih usaha. Menurutnya, menjual makanan siap santap memberikan kepuasan karena hasil masakannya juga dapat dinikmati bersama keluarga.

“Dulu saya menjual kue, kemudian ingin menjual lauk karena lebih puas memasak. Kalau jualan begini saya juga bisa ikut makan hasil masakan sendiri,” ujar Hapsa saat diwawancarai, Jumat (17/7/2026).

Menu yang disediakan setiap hari cukup beragam. Hapsa menjual cumi, ayam, ikan, ikan kering, dangko, hingga aneka sayuran. Pilihan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan yang berasal dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa, pelajar SMA, hingga masyarakat sekitar.

Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau. Satu porsi makanan dijual dengan kisaran Rp17 ribu hingga Rp22 ribu, bergantung pada jenis lauk yang dipilih. Kisaran harga tersebut membuat usahanya tetap diminati oleh pelanggan dengan latar belakang yang berbeda.

Dalam menjalankan usahanya, Hapsa berupaya menjaga kualitas makanan yang dijual. Ia tidak mempertahankan sayuran yang sudah tidak layak konsumsi. Sayur yang tidak habis terjual akan dibuang agar kesegarannya tetap terjaga. Sementara itu, tempe yang masih layak akan dicuci kembali sebelum diolah menjadi menu lain.

Menurut Hapsa, tantangan terbesar yang dihadapi bukan terletak pada proses memasak, melainkan ketika ada makanan yang tidak habis terjual. Kondisi tersebut paling sering terjadi pada menu sayuran karena memiliki masa simpan yang lebih singkat dibandingkan lauk lainnya.

Meski demikian, usaha yang telah dijalankan selama belasan tahun itu tetap mampu memberikan penghasilan yang cukup stabil. Dari hasil berjualan makanan olahan, Hapsa memperoleh pendapatan rata-rata sekitar Rp3 juta per bulan.

Pendapatan tersebut tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membantu membiayai pendidikan anaknya hingga selesai. Baginya, hasil usaha yang dijalankan secara konsisten telah memberikan manfaat bagi keluarga.

“Alhamdulillah, dengan berjualan seperti ini anak saya berhasil menyelesaikan pendidikannya. Harapan saya ke depannya tetap bisa berjualan seperti sekarang,” tutup Hapsa.

Penulis: Eka Aulia
Editor: Ahmad Jaelani

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *