Metro

Gandeng Kampus dan Komunitas, MG LPDP Sultra Baksos ke Desa Sampuabalo Buton

191
×

Gandeng Kampus dan Komunitas, MG LPDP Sultra Baksos ke Desa Sampuabalo Buton

Share this article
Para peserta Baksos di Desa Sampuabalo Buton. Foto: Ist
Example 468x60

BUTON, SULTRAKU.COM – Mata Garuda (MG) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengadakan kunjungan di Desa Sampuabalo, Kabupaten Buton sebagai bagian dari program Literasi Visit Villages jilid XI.

Sebelumnya di November pada 9-11, MG LPDP Sultra juga turun ke Desa Sampuabalo untuk kegiatan yang sama.

Example 300x600

Mengusung tema bangun desa dari desa dengan pendidikan, MG LPDP Sultra bekerja sama dengan BEM Universitas Muslim Buton, Produser Film La Karambau Alan ASJKG, Sekolah Jelajah Dunia, Sikola Pesisir rintisan Karang Taruna Pemuda Desa Sampuabalo, KAMMI Unidayan, dan mahasiswa KKA Universitas Muhammadiyah Buton serta partisipasi dari salah satu pengurus KMBY (Komunitas Mahasiswa Baubau Yogyakarta).

Kepala Sekolah SJD, Suhardiyanto membuka kegiatan dengan penguatan bahwa bagian penting dari membangun sebuah desa adalah membangun jiwanya. Pembangunan ini, bisa dimulai dari memperkuat sendi-sendi pendidikan baik yang bergerak di bidang formal, informal dan nonformal.

Kegiatan yang diadakan oleh Mata Garuda Sultra yang berkolaborasi dengan Sekolah Jelajah Dunia (SJD), Sikola Pesisir, Karang Taruna Kaindea, Himpunan Mahasiswa Sampuabalo (HIPPSAM), dan BEM Universitas Muslim Buton, merupakan kolaborasi yang efektif untuk membangun desa, dari desa untuk desa.

Berbicara soal film, Seikh Jaelani atau yang biasa disapa Alan ASJKG sutradara film La Karambau ini mendukung dengan pandangan bahwa Industri Film Indonesia sudah mulai maju.

“Kita yang berada di wilayah Indonesia tengah tidak boleh ketinggalan dalam mengikuti industri ini, oleh sebab itu saya mulai menerapkan di beberapa desa yang saya kunjungi melalui program kolaborasi,” terang Seikh Jaelani.

Di desa Sampuabalo bersama 50 peserta didik, pihaknya berbagi soal bagaimana cara membuat scenario, belajar peran dalam drama, cara shooting menggunakan kamera, dan lain-lain.

“Contohnya seperti HP yang kita gunakan bisa menjadi modal awal dalam pengembangan pembuatan video dan film pendek,” ujarnya.

Ketua Karang Taruna, La Ode Duprin menambahkan kesan bahwa kegiatan ini cukup membantu warga desa untuk mendapatkan pemahaman dan pelajaran baru.

“Suasana dan konsep belajarnya menyenangkan, anak-anak sangat suka dan mereka sangat terlihat bahagia, kakak-kakak pengajar baik dan ramah dan sabaran menghadapi anak-anak kami yang multi karakter itu,” terang La Ode Duprin.

La Ode Duprin berharap kolaborasi ini bisa berjalan lama dan jika perlu menjadi program bersama.

“Kami menyadari kelemahan dan kekurangan kami, terlebih akses informasi terkait pendidikan, maka besar harapan kami kedepannya hadirkan lagi banyak informasi ke kami, baik tentang beasiswa juga tentang macam-macam profesi,” pintanya.

Ia juga mengatakan, semangat adik-adik Desa Sampuabalo sangatlah besar untuk mempersiapkan diri untuk lulus beasiswa LPDP atau mengikuti program belajar lainnya yang nantinya akan menambah pengetahuan.

Sementara Ketua Panitia Baksos, Nasrun turut mengambil andil sebagai tutor adik-adik sekolah dasar. Nasrun memberikan pesan bahwa wawasan dan kapasitas diri adik-adik wajib dikembangkan lagi.

“Kesuksesan para peserta wajib disertai keikhlasan dan ibadah. Insya Allah berkah dan selamat dunia akhirat. Setelah menempuh pendidikan, pulanglah bangun desa,” ujarnya.

Dia menyimpulkan bahwa inspirasi menjadi kunci, agar semua mau berpartisipasi. Oleh sebab itu pentingnya menghadirkan role model atau teladan bagi adik-adik di desa. Bahu-membahu perbaiki negeri, bersama-sama mengabdi tanpa henti.

Kegiatan kunjungan desa ke desa tersebut dirangkaikan dengan sosialisasi beasiswa LPDP dan donasi amal yang dihadiri pula oleh ketua BEM FKIP UMU Buton dan jajarannya.

“Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini akan menjadi ajang silaturahmi bagi kita semua dan akan menumbuh kembangkan kesadaran generasi kita semua akan pentingnya menempuh jalur pendidikan. Pendidikan adalah wadah pembuka cakrawala berpikir, pembuka sekat, dan perangkul komunitas,” ucap Sherly selaku Ketua BEM FKIP.

Ketua Mata Garuda LPDP Sultra, Anna Nurawalia menutup dengan menegaskan bahwa kerja sama-sama adalah strategi utama untuk memajukan sebuah daerah dan bijaksananya inisiatif itu dimulai oleh akademisi atau mahasiswa yang berasal dari kampus-kampus, komunitas, dan pemerintah setempat.

Sebab itu dirinya memulai kolaborasi dengan menyatukan kampus yang berwarna-warni untuk memberi nyawa pada nafas pendidikan di desa-desa kepulauan Buton.

“Saya menaruh hormat luar biasa pada tim panitia baik dari BEM UMUButon Nasrun sebagai ketua panitia baksos kali ini, Dira sebagai ketua panitia baksos sebelumnya, ketua BEM FKIP Sherly, Irma, Dwi, Wiwin, Nanda, Roland, Tini, Juan, dkk, tim pengurus MGlpdpsultra, tim SJD, tim karangtaruna, dan Sutradara Alan ASJKG yang telah mengupayakan berbagai macam usaha agar kegiatan ini terlaksana. Kami turun berbagi pengetahuan dan informasi beasiswa, buku-buku bacaan, buku tulis, dan juga beberapa hadiah sembako,” urainya.

Dia juga berharap agar anak-anak tidak boleh putus sekolah. Jika permasalahannya adalah ekonomi, maka beasiswa LPDP serta masih banyak lagi beasiswa dan program belajar gratis lainnya adalah jawabannya.

“Fasilitas utama yang diperlukan adalah kemauan belajar, mendengarkan nasehat, dan membaca buku. Kedepannya kita aka nada program menyatukan seluruh warna jeket, tanpa sekat, tanpa batas, turun bersama untuk rakyat,” ungkap Anna.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *